Siap Hadapi Perang Dagang Dunia, SCG Ungkap 4 Strategi Bisnis untuk Perkuat Daya Saing Global

Jakarta, 22 Mei 2025 - Pada April 2025, Amerika Serikat (AS) resmi memberlakukan kebijakan tarif resiprokal terhadap barang impor dari negara-negara dengan defisit perdagangan signifikan terhadap AS. Kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian di pasar global, khususnya bagi pemerintah serta pelaku industri terkait. Kondisi ini berdampak pada penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini oleh International Monetary Fund (IMF), yang merevisi angka menjadi hanya 2,8%. Penurunan tersebut terutama didorong oleh revisi penurunan proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) hampir di seluruh negara.

 

Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak kebijakan tarif resiprokal dari AS, dengan tarif sebesar 32 persen yang dikenakan pada produk impor Indonesia, yang kemudian ditangguhkan oleh Pemerintah Amerika Serikat selama 90 hari pada 9 April 2025 untuk memberikan waktu lebih bagi proses negosiasi. Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat masih berada dalam proses negosiasi, yang ditargetkan untuk mencapai titik temu sebelum masa penangguhan 90 hari tersebut berakhir. Sejalan dengan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,7% pada tahun 2025 dan 2026, mengalami penurunan dibandingkan proyeksi awal sebesar 5,1% yang diumumkan pada Januari 2025.

SCG, sebagai salah satu pemimpin industri regional, menganalisis bahwa kondisi ini akan memberikan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dikarenakan SCG beroperasi di beberapa negara yang terdampak kebijakan tarif AS, termasuk Thailand, Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan Indonesia.

Dampak Kebijakan AS terhadap SCG

Perusahaan memproyeksikan bahwa dampak langsung terhadap perusahaan masih terhitung minimal. Hal ini disebabkan oleh total aktivitas ekspor perusahaan untuk AS terhitung hanya 1% dari total keseluruhan penjualan pada tahun 2024. Di sisi lain, dampak tidak langsung akan dirasakan ketika kebijakan AS dalam menunda tarif resiprokal selama 90 hari bagi berbagai negara, berakhir. Setelah berakhirnya periode evaluasi, negara-negara yang dikenakan kebijakan tersebut, termasuk Indonesia, akan dikenakan tarif yang berbeda. Saat ini, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat sedang melakukan negosiasi dengan tujuan mencapai kesepakatan bersama sebelum masa penangguhan berakhir.

Thammasak Sethaudom, President and CEO SCG, menyampaikan, “Perang dagang memberikan tekanan secara global, namun peluang di balik tantangan tersebut masih tetap ada. Contohnya termasuk tren penurunan harga minyak dunia serta daya beli yang tetap kuat di pasar tertentu untuk produk High Value-Added (HVA), produk ramah lingkungan, dan produk berkualitas dengan harga terjangkau.

 

4 Strategi SCG untuk Menghadapi Perang Dagang Global

 

Untuk menanggulangi pasar yang tidak stabil, SCG mengerahkan strategi untuk menghadapi perang dagang global.

  1. Reducing costs to compete with global manufacturers in response to competition from low-cost products imported from other countries. Some of the approaches taken include:
    1. Reducing operational costs by consolidating production lines, improving efficiency, and streamlining processes, while increasing the use of robotic automation. In one of its subsidiaries, PT Semen Jawa, SCG uses Digital Mapping, mining land measurement technology that allows faster data processing, reducing human exposure to risks, and shortening the required travel time.
    2. Reducing administrative costs by leveraging Artificial Intelligence (AI) to enhance organizational efficiency. One of the AI technologies SCG applied is SA-RA, an AI-powered tool that helps to capture key discussions during online conversation.
    3. Optimizing working capital across the entire supply chain. SCG Barito Logistics implements a logistics backhaul matching system, aligning return shipments (backhauls) with available land transport on the same route to reduce empty-load trips and maximize delivery efficiency.
    4. Increasing the use of clean energy. Through its subsidiaries, PT Semen Jawa and PT Tambang Semen Sukabumi, SCG utilizes AF/AR (Alternative Fuel/Alternative Resources) technology, an advanced comprehensive waste-to-value system to replace costly energy sources such as coal and to  reduce reliance on natural resources.
  2. Memperluas portofolio produk untuk memenuhi permintaan di seluruh segmen pasar dengan mengembangkan produk yang menjawab kebutuhan pasar dalam kategori Produk Bernilai Tambah Tinggi (HVA Products), Produk Ramah Lingkungan (Green Products), serta Produk Berkualitas dengan Harga Terjangkau (Quality Affordable Products/QAP).
  3. Memasuki pasar-pasar baru yang memiliki potensi tinggi dengan memperluas ekspor produk seperti SCG Low Carbon Cement ke pasar-pasar baru yang menunjukkan permintaan tinggi.
  4. Membangun keunggulan kompetitif dengan memanfaatkan basis produksi yang terdiversifikasi di seluruh ASEAN, termasuk secara strategis mengalihkan produksi dan ekspor ke negara-negara yang menghadapi tarif impor AS yang lebih rendah. Sebagai contoh, produk kemasan milik SCGP dapat diproduksi dan diekspor dari Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina.

Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada prinsip ESG, SCG meyakini bahwa seluruh pelaku industri, termasuk para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), dapat berperan aktif dalam mengatasi dampak perang dagang yang sedang berlangsung. SCG juga menyadari bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional dan sangat terdampak oleh situasi perang dagang global saat ini.

Warit Jintanawan, Country Director SCG Indonesia, menyampaikan, “SCG siap dan terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan seluruh sektor dalam berbagi pengetahuan, meningkatkan kapabilitas, serta membantu pelaku usaha beradaptasi dan bersaing secara efektif. Melalui program GESARI (Gerakan Desa Berdikari) yang telah mendukung lebih dari 70 UMKM di Indonesia, kami berkomitmen memperluas jangkauan untuk mendukung pelaku usaha kecil dan menengah agar dapat bertahan di tengah ketidakstabilan pasar sekaligus berkontribusi memperkuat perekonomian nasional di Indonesia.”

***

Tentang SCG

SCG merupakan pemimpin bisnis regional dengan lini bisnis utama; Cement & Green Solutions, Smart Living, Decor, Distribution & Retail, Packaging, Chemicals, Cleanergy (Clean Energy), Logistics, Deep Technology & Digital, dan Investment. SCG berupaya menjawab kebutuhan yang beragam dari pelanggan melalui kemitraan kolaboratif dan pengembangan produk, layanan, dan solusi yang inovatif.

 

SCG memulai operasi bisnis di Indonesia sejak 1992 dengan membuka perdagangan dan secara bertahap mengembangkan investasinya dalam bisnis yang berbeda pada industri semen, bahan bangunan, bahan kimia, dan kemasan. Hingga hari ini, SCG memiliki total 38 perusahaan di seluruh Indonesia dengan lebih dari 8.000 karyawan.

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

 

Amanda Utari

Brand and Communications Manager – PT SCG Indonesia

Phone: +6281110689798, Email: amandadwi@scg.com