Jakarta, 21 November 2025 – Lanskap global kini memasuki era dengan regulasi iklim yang semakin ketat untuk memperkuat ketahanan dunia. Salah satu contohnya adalah Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), yaitu pajak karbon atau bea masuk yang dikenakan berdasarkan emisi gas rumah kaca yang terkandung dalam barang impor. Kebijakan yang diperkenalkan oleh Uni Eropa (EU) ini bertujuan menurunkan emisi dari produk impor. Kebijakan tersebut, bersama dengan berbagai regulasi transisi hijau lainnya yang diakui secara global, mendorong negara dan pelaku industri untuk mempercepat upaya dekarbonisasi guna menjaga daya saing mereka di pasar global. Pada saat yang sama, ekspektasi dunia terhadap efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, dan adopsi teknologi rendah karbon semakin meningkat, menciptakan urgensi tambahan bagi negara dan pelaku usaha untuk memodernisasi sistem industrinya.
Sebagai respons terhadap berbagai tekanan global tersebut, Indonesia telah menempatkan keberlanjutan sebagai salah satu prioritas utama dalam visi jangka panjang nasional, Indonesia Emas 2045. Dalam visi ini, pemerintah menargetkan penurunan intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 93,5% pada tahun 2045 untuk mendukung pencapaian Net Zero Emissions pada 2060. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah juga berupaya meningkatkan Indeks Kualitas Lingkungan menjadi 83,0% pada tahun 2045. Guna mencapai sasaran tersebut, Indonesia tengah mempercepat transisi dekarbonisasi melalui modernisasi industri menuju energi bersih, peningkatan kapabilitas industri nasional, serta penerapan ekonomi sirkular dengan efisiensi sumber daya yang lebih tinggi. Dalam upaya mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, pemerintah meyakini bahwa peran sektor swasta dan masyarakat luas sangatlah besar. Hal ini karena keduanya merupakan pemangku kepentingan yang paling berpengaruh terhadap komponen Produk Domestik Bruto (PDB) dan memiliki kemampuan untuk mempercepat produktivitas sektor-sektor ekonomi guna mencapai visi nasional tersebut. Pemerintah Indonesia juga percaya bahwa kehadiran sektor swasta dapat menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi untuk mendorong pembangunan bangsa.
Seiring percepatan transisi hijau di Indonesia, pemerintah tidak hanya mencari investor, tetapi juga mitra yang mampu memperkuat ekosistem lokal, mendorong dekarbonisasi industri, serta memastikan transisi yang adil dan inklusif (Just and Inclusive Transition). Dalam konteks ini, SCG sebagai salah satu pelaku bisnis regional terdepan tetap berkomitmen menjadi mitra jangka panjang Indonesia, menjembatani standar keberlanjutan dan ESG global dengan prioritas inovasi hijau Indonesia melalui pendekatan Public-Private-People Partnership (PPPP). SCG menerapkan model keberlanjutan dan inovasi hijau yang telah terbukti efektif serta berkualitas tinggi untuk mendukung agenda transisi hijau nasional.
SCG memperkuat perannya sebagai mitra kebijakan Indonesia dengan menerjemahkan ambisi nasional ke dalam implementasi nyata, mendorong kolaborasi lintas sektor yang lebih kuat, serta membuka konektivitas lintas ASEAN yang meningkatkan produktivitas nasional dan mempercepat terwujudnya Visi Indonesia Emas 2045.
Warit Jintanawan, Country Director SCG in Indonesia, menyatakan, “Komitmen kami untuk menjadi mitra pembangunan Indonesia berlandaskan pada tujuan bisnis Inclusive Green Growth, yang memastikan setiap inisiatif keberlanjutan dapat diakses oleh seluruh pemangku kepentingan kami, termasuk pemerintah, mitra bisnis, dan komunitas. Dengan menyelaraskan praktik terbaik global dengan implementasi nyata di Indonesia, SCG memastikan bahwa inovasi transisi hijau memberikan dampak sosial-ekonomi yang nyata, terukur, dan inklusif.”
Mendorong Kemajuan Hijau: Upaya SCG sebagai Mitra Pembangunan Nasional
Dengan keahlian regional selama puluhan tahun di bidang bahan bakar alternatif, material rendah karbon, manufaktur sirkular, dan teknologi lingkungan canggih, SCG berkomitmen untuk menghadirkan solusi-solusi yang telah teruji secara internasional dan dapat diadaptasi untuk Indonesia. Dengan komitmen ini, perusahaan bertujuan untuk mendukung aspirasi negara dalam mendukung rencana pembangunan nasionalnya, terutama dalam transisi energi dan ekonomi sirkular, sekaligus mempersiapkan Indonesia untuk mempercepat dekarbonisasi dan mempertahankan daya saing globalnya.
- Mendorong Energi Terbarukan dan Alternatif untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional
Transisi energi adalah jalan menuju ketahanan dan pertumbuhan. SCG memanfaatkan pengalaman regionalnya dalam energi bersih dan manufaktur rendah karbon untuk memperkuat daya saing nasional. Perusahaan memiliki Net Zero Roadmap SCG, yang memprioritaskan efisiensi dan transisi energi dengan mengeksplorasi teknologi canggih untuk meningkatkan efisiensi energi dan menambah proporsi energi terbarukan. Hingga saat ini, SCG telah memulai inisiatif transisi energinya di Indonesia dengan peresmian fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF). Ini merupakan proyek konversi sampah menjadi bahan bakar pertama di Kabupaten Sukabumi, sebuah upaya kolaboratif antara SCG dan Pemerintah Daerah Sukabumi yang mengubah sampah menjadi sumber bahan bakar alternatif terbarukan yang bernilai.
- Mendorong Konsep Waste-to-Value untuk Memajukan Ekonomi Sirkular
Ekonomi sirkular menghubungkan pengurangan sampah dengan pengurangan karbon. SCG berupaya mendukung tujuan nasional melalui inovasi sirkular yang terbukti, bermitra dengan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan sumber daya. Dengan membawa pengetahuan regional dalam inovasi hijau, SCG berkomitmen untuk membawa konsep waste-to-value melalui rantai pasokan rendah karbon. Hal ini mencakup memaksimalkan produk daur ulang, memanfaatkan energi alternatif, dan mempromosikan masyarakat hijau. Saat ini, salah satu unit bisnis SCG, FajarPaper, menggunakan 100% kertas daur ulang sebagai material produknya, sehingga menghilangkan penggunaan pulp murni. Dengan fasilitas RDF, perusahaan juga mempromosikan konsep waste-to-value dengan menggunakan sampah kota sebagai sumber energi untuk memproduksi semen rendah karbon. Dalam waktu yang sama, SCG mendukung pembangunan sumber daya manusia yang inklusif melalui program-program seperti SCG MENTARI dan pendidikan lingkungan berbasis komunitas, bekerja sama erat dengan masyarakat lokal sebagai pemangku kepentingan utama. Berbagai inisiatif ini berkontribusi untuk membangun kesadaran hijau serta keterampilan siap masa depan di kalangan pemuda dan anggota masyarakat seiring Indonesia memajukan transisinya menuju ekonomi rendah karbon. SCG berencana mengalokasikan investasi lebih lanjut untuk memajukan sistem waste-to-value dan ekonomi sirkular Indonesia.
- Memajukan Teknologi Hijau untuk Memodernisasi Industri Berat Indonesia
Modernisasi industri adalah kunci untuk dekarbonisasi. Berkomitmen menjadi pembangun kapasitas di Indonesia, SCG berdedikasi untuk berbagi praktik terbaik ESG serta mentransfer keahlian teknologi hijau untuk memperkuat basis industri Indonesia. Sejalan dengan aspirasinya untuk menciptakan Low Carbon Society, SCG telah mentransformasi bisnisnya dengan merangkul inovasi hijau dan teknologi modern. Perusahaan ini telah memajukan produk semen, beton, dan bahan bangunannya agar selaras dengan sertifikasi dan peringkat industri hijau yang ada. Secara regional, SCG menerima Peringkat A dalam Industri Bahan Konstruksi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks saham global terkemuka. Di Indonesia, SCG telah berhasil memproduksi delapan bahan bangunan yang menerima sertifikasi Green Label dari Green Product Council Indonesia (GPCI). Sertifikasi nasional ini adalah salah satu contoh utama bagaimana SCG berkomitmen untuk mentransfer pengetahuan regionalnya dan membawa inovasi hijau modern kelas dunia ke Indonesia.
Di tengah meningkatnya ekspektasi global terhadap transformasi yang rendah karbon, transparan, dan tangguh, SCG bertujuan untuk menjadi mitra pembangunan strategis Indonesia. Dalam hal ini, SCG bertujuan untuk membantu memajukan Visi Indonesia Emas 2045 dengan mendorong kolaborasi erat dengan sektor publik, swasta, dan masyarakat untuk memberikan kemajuan yang terukur.
Salah satu cara SCG untuk mempromosikan Public-Private-People Partnership (PPPP) adalah melalui ESG Symposium Indonesia, sebuah acara tahunan strategis yang mempertemukan otoritas pemerintah, pemimpin industri, akademisi, institusi keuangan, dan masyarakat sipil untuk mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi yang mendesak. Tahun ini, perusahaan akan menyelenggarakan ESG Symposium 2025 Indonesia dengan tema “Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow“, berfokus pada bagaimana semua pemangku kepentingan dari sektor publik, bisnis, dan komunitas dapat berkontribusi untuk mempercepat transisi rendah karbon Indonesia, mendorong inovasi yang lebih besar dalam sirkularitas dan teknologi bersih, serta memperkuat kesiapan bangsa untuk bersaing dalam ekonomi rendah karbon global.
ESG Symposium 2025 akan diadakan pada 2 Desember 2025 di The Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta. Melalui platform ini, SCG memperkuat perannya sebagai mitra terpercaya, membantu Indonesia mendorong kolaborasi, mengembangkan solusi berdampak tinggi, dan membuat kemajuan yang mantap menuju aspirasi Indonesia Emas 2045.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi @SCG_Indonesia di Instagram.
***
Tentang SCG
SCG merupakan pemimpin bisnis regional dengan lini bisnis utama; Cement & Green Solutions, Smart Living, Decor, Distribution & Retail, Packaging, Chemicals, Cleanergy (Clean Energy), Logistics, dan Investment. SCG berupaya menjawab kebutuhan yang beragam dari pelanggan melalui kemitraan kolaboratif dan pengembangan produk, layanan, dan solusi yang inovatif.
SCG memulai operasi bisnis di Indonesia sejak 1992 dengan membuka perdagangan dan secara bertahap mengembangkan investasinya dalam bisnis yang berbeda pada industri semen, bahan bangunan, bahan kimia, dan kemasan. Hingga hari ini, SCG memiliki total 38 perusahaan di seluruh Indonesia dengan lebih dari 8.000 karyawan.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Amanda Utari
Brand and Communications Manager – PT SCG Indonesia
Phone: +6281110689798, Email: amandadwi@scg.com