Strategi Efisiensi dan Produk Green Dorong Kinerja SCG pada Kuartal III/2025

Jakarta, 13 November 2025 – Di tengah perlambatan ekonomi global yang masih berlangsung, SCG, sebagai pemimpin bisnis di kawasan regional, berhasil mempertahankan ketahanannya yang tercermin dari kinerja pada kuartal III/2025, dengan mencatatkan laba sebelum kerugian persediaan dan restrukturisasi sebesar Rp402 miliar (US$ 23 juta), meskipun membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp347 miliar (US$ 20 juta). Untuk periode 9 bulan pertama tahun 2025 (9M/2025), SCG melaporkan EBITDA yang kuat sebesar Rp23.111 miliar (US$ 1.344 juta). Perusahaan tetap berfokus pada upaya memperkuat daya saing dan keberlanjutan jangka panjang di seluruh kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, melalui empat strategi utama: mempertahankan disiplin keuangan yang berkelanjutan, melakukan sentralisasi produksi untuk menghilangkan redundansi, meningkatkan optimalisasi regional, serta memperluas produk dan layanan Smart Value, HVA, dan Green.

 

Thammasak Sethaudom, Presiden dan CEO SCG, menyampaikan bahwa ekonomi global pada kuartal III/2025 masih berada di bawah tekanan akibat perang dagang, tarif impor Amerika Serikat, serta berlanjutnya konflik Rusia–Ukraina. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan PDB global akan melambat menjadi 3,2% pada tahun 2025 dan 3,1% pada tahun 2026.

“SCG menilai bahwa gejolak ekonomi saat ini akan berlangsung dalam jangka panjang dan ditandai dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, baik dari faktor eksternal maupun domestik. Oleh karena itu, sejak tahun lalu perusahaan telah mulai beradaptasi dengan menjaga disiplin keuangan yang ketat, menekan biaya, melakukan sentralisasi produksi untuk menghilangkan redundansi, restrukturisasi operasional bisnis, serta mengembangkan produk Smart Value, HVA, dan Green untuk memenuhi kebutuhan pasar di seluruh segmen sekaligus memperluas pasar baru. Upaya-upaya tersebut telah menghasilkan arus kas yang kuat serta kinerja bisnis yang stabil,” ujar Thammasak.

Pada kuartal III/2025, SCG mempertahankan EBITDA yang kuat sebesar Rp7.368 miliar (US$ 428 juta). Perusahaan melaporkan Laba sebesar Rp402 miliar (US$ 23 juta). Pendapatan dari Penjualan mencapai Rp63.237 miliar (US$ 3.678 juta), turun 2% dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama dipengaruhi oleh faktor musiman di bisnis semen dan konstruksi, serta penurunan penjualan dari SCGP.

Kinerja Utama Unit Bisnis SCG Kuartal III/2025

Meskipun terjadi perlambatan musiman di sektor konstruksi, Unit Bisnis Cement and Green Solutions mencatatkan laba sebesar Rp822 miliar (US$ 48 juta), didukung oleh inisiatif restrukturisasi biaya dan ekspansi berkelanjutan pasar Low Carbon Cement di ASEAN. SCG Decor mencatat laba sebesar Rp158 miliar (US$ 9 juta), didorong oleh manajemen biaya yang efektif serta fokus pada pengembangan produk High Value Added (HVA) dan produk dengan pertumbuhan tinggi yang memenuhi kebutuhan konsumen modern. Sementara itu, SCG Smart Living dan SCG Distribution and Retail mencatat laba gabungan sebesar Rp31 miliar (US$ 2 juta), didukung oleh percepatan pengurangan biaya melalui pemanfaatan AI dan sistem automation, serta pengelolaan bahan baku yang efisien. SCGC membukukan rugi sebesar Rp2.076 miliar (US$ 121 juta), karena bisnis ini masih menghadapi penyempitan margin harga produk kimia. Namun demikian, perusahaan tetap mempertahankan tingkat pemanfaatan produksi yang tinggi sebesar 85–90%, melebihi rata-rata industri. Sementara itu, SCGP mencatat laba periode berjalan sebesar Rp495 miliar (US$ 29 juta). Secara keseluruhan, industri packaging di ASEAN mengalami perbaikan, didorong oleh konsumsi domestik dan pemulihan ekspor, meskipun harga jual pulp dan kertas menurun.

Untuk periode 9 bulan pertama tahun 2025, EBITDA mencapai Rp23.111 miliar (US$ 1.344 juta), meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba Periode Berjalan tercatat sebesar Rp9.225 miliar (US$ 536 juta), meningkat 159%, sementara Pendapatan dari Penjualan mencapai Rp192.563 miliar (US$ 11.198 juta), mengalami penurunan 3%.

Dalam dua belas bulan terakhir, SCG secara konsisten telah melaksanakan langkah-langkah untuk memperkuat posisi keuangannya. Modal kerja menurun sebesar Rp11.658 miliar (US$ 667 juta), utang bersih turun sebesar Rp17.417 miliar (US$ 997 juta), dan biaya keuangan berkurang sebesar Rp104 miliar (US$ 6 juta), atau turun 2%. Rasio utang bersih terhadap EBITDA tercatat 4,7 kali, dengan cash on hand yang tersedia pada akhir kuartal III/2025 sebesar Rp632.377 miliar (US$ 1.530 juta), mencerminkan manajemen keuangan perusahaan yang disiplin dan bijaksana.

Untuk operasi SCG di ASEAN (tidak termasuk operasi di Thailand), Pendapatan dari Penjualan untuk periode 9 bulan pertama 2025 (9M/2025) mencapai Rp39.957 miliar (US$ 2.324 juta), meningkat 6% secara tahunan. Operasi SCG di ASEAN (tidak termasuk Thailand) berkontribusi sebesar 21% terhadap total Pendapatan dari Penjualan SCG. Angka ini mencakup penjualan dari operasi lokal di setiap pasar ASEAN maupun ekspor dari operasi di Thailand.

Hingga September 2025, total aset SCG mencapai Rp452.357 miliar (US$ 25.891 juta), dengan aset SCG di ASEAN (tidak termasuk aset di Thailand) sebesar Rp214.957 miliar (US$ 12.303 juta), atau setara dengan 48% dari total aset konsolidasian SCG.

Di Indonesia, SCG mencatat Pendapatan dari Penjualan untuk periode 9 bulan pertama 2025 (9M/2025) sebesar Rp14.047 miliar (US$ 817 juta), meningkat 8% secara tahunan, terutama dipengaruhi oleh kurs dari translasi mata uang asing (FX).

Strategi SCG untuk Memperkuat Daya Saing di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

Meskipun perekonomian global tetap rapuh dan tidak dapat diprediksi, SCG yakin bahwa strategi adaptasi tepat waktu yang dijalankan telah terbukti menjadi “bentuk kekebalan yang tepat.” SCG terus melanjutkan empat strategi utama untuk memperkuat ketahanan bisnis dan menghadapi perlambatan ekonomi global yang berkepanjangan, yaitu:

Strategi 1: Menjaga disiplin keuangan yang berkelanjutan, mengelola arus kas secara stabil, dan menggunakan modal kerja secara bijaksana. Terus melakukan restrukturisasi operasional bisnis dan mengurangi biaya melalui pemanfaatan AI & Robotika. PT Tambang Semen Sukabumi, salah satu unit bisnis Cement & Green Solution SCG, memanfaatkan Digital Mapping, yaitu pengukuran lahan tambang secara digital yang memungkinkan pemrosesan data lebih cepat, mengurangi paparan manusia terhadap risiko, dan memperpendek waktu perjalanan yang dibutuhkan.

Strategi 2: Sentralisasi produksi untuk menghilangkan redundansi, dengan fokus pada peningkatan efisiensi pengelolaan aset di unit bisnis SCG yang beroperasi di ASEAN untuk menekan biaya produksi dan ekspor. Di Indonesia, peningkatan operasional yang berkelanjutan di PT Semen Jawa serta sinergi rantai pasok regional membantu meningkatkan efisiensi produksi dan pengelolaan logistik di seluruh ASEAN.

Strategi 3: Memanfaatkan Basis Produksi yang Beragam di ASEAN (Optimalisasi Regional). Melalui anak perusahaannya, SCG mempertahankan basis distribusi dan produksi strategis untuk mendukung ketahanan pasar. Melalui PT Kokoh Inti Arebama Tbk., SCG meluncurkan kampanye “Tahan Guncang, Pantang Tumbang” untuk menegaskan komitmennya dalam menyediakan material konstruksi berkualitas tinggi dan tahan lama. Selain itu, melalui PT Berjaya Nawaplastic Indonesia, perusahaan memperkenalkan SCG PVC Pipe & Fitting Adhesive untuk meningkatkan keandalan produk dan performa instalasi.

Strategy 4: Strategi 4: Memperluas portofolio produk dan layanan Smart Value – HVA – Green. SCG memperluas penawaran Smart Value dan Green Product di Indonesia, termasuk solusi pipa berkelanjutan yang dipamerkan pada ILDEX Indonesia 2025 untuk industri perikanan dan peternakan, sekaligus mengembangkan portofolio produk Low Carbon Cement untuk memenuhi permintaan konstruksi yang ramah lingkungan di Indonesia.

Selain operasi bisnis, SCG terus mendorong pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia melalui inisiatif lingkungan dan sosial. Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, PT Semen Jawa meresmikan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) pertama di Sukabumi, yang berlokasi di TPSA Cimenteng, Sukabumi. Fasilitas ini mengubah sampah kota menjadi energi terbarukan, dengan kapasitas pengolahan lebih dari 300 ton per hari. Selain itu, SCG, bersama dengan Mitra10 dan Rekosistem, meluncurkan program “Trade-In: Tukar Baru, Tambah Seru!” untuk mendorong pengelolaan e-waste yang bertanggung jawab di wilayah Jakarta Raya, yang berhasil mengumpulkan 2.538,9 kilogram produk elektronik yang tidak terpakai.

SCG menerima penghargaan dan pengakuan penting pada kuartal ini. Perusahaan meraih Indonesia Green and Sustainable Corporate Awards (IGSCA) 2025 untuk kategori Best Innovation in Circular Economy dan Best ESG Implementation. Selain itu, SCG juga menerima penghargaan Regional Leader in Green Innovation and ESG Excellence pada CNN Indonesia Awards 2025, sebagai pengakuan atas kepemimpinan perusahaan dalam praktik keberlanjutan dan ekonomi sirkular.

The company advances its social development via education and community programs. The SCG Sharing the Dream flagship program awarded scholarships to over 400 high school and 12 university students nationwide to build a “Green Generation.” From this scholarship program, SCG chose two SCG Scholar-led projects addressing clean water access and gender equality. The company also continues its social programs such as Beasiswa Berprestasi and SCG ASIK (I Love Fish) to reduce social inequality and improve health outcomes in Sukabumi.

Perusahaan mendorong pengembangan sosial melalui program pendidikan dan masyarakat. Program flagship SCG Sharing the Dream memberikan beasiswa kepada lebih dari 400 siswa SMA dan 12 mahasiswa di seluruh Indonesia untuk membangun “Green Generation.” Dari program beasiswa ini, SCG memilih dua proyek yang dipimpin oleh SCG Scholar yang berfokus pada akses air bersih dan kesetaraan gender. Perusahaan juga melanjutkan program sosial lainnya, seperti Beasiswa Berprestasi dan SCG ASIK (Aku Suka Ikan), untuk mengurangi ketimpangan sosial dan meningkatkan kesehatan masyarakat di Sukabumi.

“Di tengah gejolak ekonomi global yang berkepanjangan, SCG menilai bahwa tantangan akan terus berlanjut hingga tahun depan, dipicu oleh faktor-faktor yang belum terselesaikan seperti polarisasi ekonomi yang semakin jelas dan meningkatnya hambatan perdagangan. Meskipun kondisi semakin menantang, kami tetap yakin bahwa langkah-langkah tegas yang telah dilaksanakan sepanjang tahun lalu merupakan arah yang tepat. Langkah-langkah tersebut mencakup memperkuat disiplin keuangan, restrukturisasi operasi, dan memperluas ke pasar dengan potensi tinggi, yang semuanya telah membangun fondasi yang kokoh untuk kekuatan dan ketahanan SCG yang berkelanjutan,” tutup Thammasak.

***

Tentang SCG

SCG merupakan pemimpin bisnis regional dengan lini bisnis utama; Cement & Green Solutions, Smart Living, Decor, Distribution & Retail, Packaging, Chemicals, Cleanergy (Clean Energy), Logistics, dan Investment. SCG berupaya menjawab kebutuhan yang beragam dari pelanggan melalui kemitraan kolaboratif dan pengembangan produk, layanan, dan solusi yang inovatif.

 

SCG memulai operasi bisnis di Indonesia sejak 1992 dengan membuka perdagangan dan secara bertahap mengembangkan investasinya dalam bisnis yang berbeda pada industri semen, bahan bangunan, bahan kimia, dan kemasan. Hingga hari ini, SCG memiliki total 38 perusahaan di seluruh Indonesia dengan lebih dari 8.000 karyawan.

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

 

Amanda Utari

Brand and Communications Manager – PT SCG Indonesia

Phone: +6281110689798, Email: amandadwi@scg.com